Kualitas Sebelum Kuantitas


Public speaking courses, public speaking classes, public speaking college, public speaking chapter 1 summary, public speaking competence. 

Pasangan yang tidak mengobrol 30 menit dalam sehari

"Saya jarang mengobrol dengan suami. Dia seperti Mengabaikan saya."
   "Kalau kami bicara pasti bertengkar, sehingga lebih baik kami tidak berbicara."
 Ucapan tersebut sering saya dengar dari ibu rumah tangga berusia 40-an. Saya memahami kesulitan tersebut karena usia saya pun sebaya dengannya. Menurut laporan Kementrian Wanita dan Keluarga, waktu dialog antara pasangan usia paruh baya 40 hingga 50-an adalah terendah. Sebanyak 34,4% pasangan berusia 40-an mengobrol kurang dari 30 menit dalam sehari, sedikit lebih banyak daripada pasangan berusia 50-an yang sebanyak 34,1%. Kurangnya waktu mengobrol seperti ini menandakan komunikasi di antara pasangan tersebut tidak berjalan dengan baik.

     Dalam keluarga saya pun, waktu untuk mengobrol sangat sedikit. Saya mengajar di kampus, perusahaan dan lembaga pendidikan, serta aktif di panggung - panggung seantero negeri menjadi moderator dan penyair dalam berbagai kegiatan. Setiap hari saya begitu sibuk sampe harus menyewa road manager. Oleh karena itu, sesampainya di rumah, saya pasti langsung tertidur.

      Suami saya pun selalu bekerja di luar, sehingga mudah saja untuk muncul konflik di antara kami karena kurangnya dialog. Namun, kami mengatasinya dengan bijak. Suami saya mampu menjadi teladan--rela mengurus masalah di rumah. Ia tidak pernah sekali pun mengeluh. Selain itu, kami juga secara efisien menerapkan rumus komunikasi "C = Q x P x R".

      Saat saya bertanya sesuatu seperti, "Menurutmu bagaimana hasil promosi jabatan kali ini?" Ia yang tadinya menatap televisi langsung menoleh ke arah saya. Lalu dengan wajah tidak enak hati ia menjawab, "Aku tidak terlalu berharap". Kemudian saya berkata, "Ya, kesempatan bukan kali ini saja. Kalau bukan kali ini, mungkin lain kali. Semoga yang terbaik". Ia pun tersenyum hangat. Tidak berhenti sampai di sini. Ia mungkin tidak tertarik lagi kepada televisi, dan langsung bangkit serta duduk di dekat saya dan bercerita. Ia biasanya pendiam dan tidak banyak bicara mengemukakan kontribusi, prestasi, dan kehebatannya selama di perusahaan. Saya akan mendengarkannya sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan "Oh, ya?" atau "Oh, begitu." Dengan demikian, suami saya pun dapat mengungkapkan seluruh isi pikirannya.

Jangan lupa liat artikel kami yang lain : Tanya, Puji, Beraksi
Back to Top